Skip to main content

Tentang (menjadi) Tua

Beberapa hari lalu, mama-papa berkunjung ke rumah kami (yang hanya berjarak 7 menit itu jyahahaha...). Mau jajan bakso dan mie ayam katanya. Sedikit cerita, di komplek tempat saya tinggal ada abang bakso sekaligus mie ayam yang lewatnya cuma seminggu sekali di weekend. Emang gaya banget dah si abang. Sebenarnya minggu lalu, mama-papa udah dateng ehhh.. si abang di luar kebiasaan, gak masuk gerbang dong. Jadilah mama-papa masih penasaran.

Kelar melepas rindu ama kang bakso, tetiba papa nyeletuk, "Kayanya rumah mau dijual aja deh." JRENG. Ada rasa gimanaaa gitu pas dengernya. Rumah yang sudah ditempati bersama-sama selama lebih dari 30 tahun!

Anak-anak mama-papa memang hanya 2, saya dan adek. Saya selalu bercita-cita punya rumah sendiri, dan sejak tahun lalu saya sudah pisah rumah walopun masih dekat juga jaraknya ehehehe... Yang agak tak disangka memang si adek nih. KOK TETIBA DIA BISA DP RUMAH?! TAU GITU PAS GUE BOKEK MINJEM DIA AJA KEMAREN-KEMAREN. Hahaha... Si anak kecil ini sudah dewasaaaa... Tetiba dia pengen punya rumah dan merancang lebih matang masa depannya. Duh dek, tinggal jodoh aja nih yang kurang yaaa *sekalian promosi. Bayangan kami sih ya, si adek ini yang akan tinggal di rumah mama-papa. Saya sih gak itung-itungan dan merasa pilih kasih ya. Kan memang pilihan saya untuk punya rumah sendiri. Ndilalah, si bontot satu ini tak tertahankan. Setelah pencarian panjang akhirnya menjatuhkan pilihan pada rumah yang gak jauh-jauh juga dari rumah mama-papa, macem mbaknya aja ahahaha...

Papa bilang, "Si adek kayanya ga bisa ditahan lagi. Kemarin dia bilang, begitu rumahnya jadi ya dia pindah. Pengen ngerasain rumah sendiri katanya". "Lha papa sama mama ngapain di rumah segede itu?"

Rumah kami dulu, tidak terasa besar. Karena mama-papa suka menampung saudara-saudara dari luar kota yang sekolah ataupun kerja di Jakarta. Rumah selalu ramai, apalagi ibu-nya papa sampai meninggalnya juga tinggal bersama kami saat itu. Tapi saat ini kondisinya jauh berbeda. Tanpa saya dan adek, nantinya rumah hanya akan berisi mereka berdua dan itu terlalu besar buat mereka. Mengurus rumah berdua di usia mereka tentu tidak mudah. Pembantu? Wah, sulit memenuhi ekspektasi papa hahaha.. 

Saya dan adek saya mengutarakan niat kami, kalau memang jadi dijual ya tinggal saja bersama kami. Cukup kok. Tapi yaaa mereka gak mau. Niatnya kalau rumah itu dijual, mereka mau beli rumah yang lebih kecil saja, di dekat kami. Maka dari itu rumah dan seisinya akan dijual. Iya seisinya. Jadi hanya akan bawa baju saja kata papa *ini kok sedih yaaaa...

Memang rencananya masih jauh sekali. Tapi mendengar mama-papa sudah ancang-ancang begitu, perasaan saya campur aduk. Itu rumah sejarah banget, masing-masing dari kami punya cerita dari rumah itu. Dari yang awalnya rumah standar developer plek plek, sampe mama-papa sedikit demi sedikit mengumpulkan rejeki untuk renovasi. Rumah penuh cinta. Cerita teman-teman yang datang dan pernah menginap, cerita cinta pertama, ciuman pertama di teras, cerita ulang tahun. Dan jutaan momen lainnya yang terjadi di rumah itu.

Tapi mungkin ketika menjadi tua ya begitu. Apalagi yang dicari selain ketenangan hidup. Mungkin mama-papa hanya ingin menghabiskan hari tua di sebuah rumah kecil yang membuat mereka merasa lebih tenang dan nyaman, yang terpenting tetap dekat dengan anak-anak dan cucu-cucu-nya.

Comments

Popular posts from this blog

Mencairkan Jamsostek (dengan kartu keanggotaan yang hilang)

Kartu Jamsostek saya hilang sudah lama. Dan saya sudah males ngurusnya karena kebayang birokrasinya. Manapun KTP saya udah ganti sejak menikah, ganti semua-muanya. Itu bayangan saya awalnya, jadi saya udah pasrah banget deh saldo yang ada di sana lenyap. Plus saya udah pindah ke kantor baru. Tambah malessss ngurusnya. Udah kebayang males ribet..

Eh tapiii, kemudian teman saya di kantor lama, Indah, cerita kalau lagi dalam perjalanan ke kantor Jamsostek untuk mencairkan dananya. Wahhh, saya langsung kepikiran itu nasib kartu Jamsostek yang raib. Iseng-iseng saya minta tolong ditanyakan sekalian tentang prosedur pencairan dana kalau kehilangan kartunya. Ternyata prosesnya mudah bangetttt, sodara-sodara! Cuma pake surat kehilangan polisi dan kalau bisa sih ya tau nomernya.

Baiklahhh biar lebih jelas saya nelpon Kantor Jamsostek Pusat dan menanyakan tentang prosedur pencairan kalau kartunya hilang. Ternyata surat kepolisiannya harus dilegalisir kantor lama. Aaaakkkk.. Males zzzz... Tapi kal…

Review: RSIA Buah Hati

Setelah baby Tara lahir, banyak yang menanyakan tentang Rumah Sakit tempat Tara dilahirkan. Berikut reviewnya:
Obgyn Dr. Muchlis Lubis, SpOG. Dari kehamilan pertama sudah dapat referensi dokter ini dari Ira, teman saya yang juga konsultasi dengan beliau. Orangnya sangat sangat sangat ramah dan bersahabat, enak diajak konsultasi, selalu menyambut pasien dengan semangat. Catatan, beliau ini pasiennya buanyaaak banget, antriannya ampun ampun, tapi sejauh apapun no antrian yang saya dapat selalu disambut dengan ramah. Tapi terbayar kok ngantri lama-lama juga, beliau pro-normal. Kalo ga salah, beliau ini yang punya RS (nguping dari pasien di bilik sebelah yang ngobrol ama suster). Dan beliau ini sangat dermawan, pernah iseng googling dan ada yang menyebutkan beliau suka menolong pasien yang kurang mampu. Kalau masalah ganteng, itu kan bonus yah bwuahahaha...
Ruang Konsultasi Gak kaya RS lain, disini ruang konsultasi-nya cozy banget. Saya belum pernah dengan dokter lain sih disitu, tapi ruang k…

The day when she came to this world

Detik-detik kelahiran Tara...
28 Agustus 2010 TKP: RSIA Buah Hati
Sabtu itu adalah jadwal kontrol ke RS Buah Hati, saya dan Dhamar agak sedikit panik karena ini sudah beberapa hari menjelang 40 weeks, tapi kok sama sekali tidak ada tanda-tanda saya akan melahirkan. Hasil USG menyatakan berat bayi sudah 3,3kg dan semua bagus, Alhamdulillah. To be honest, saya ga mau anak saya besar-besar, maksimal 3kg lah, biar gampang melahirkannya (katanya hehehe...). Dr. Muchlis bilang, air ketuban masih bagus, kalau mau ditunggu sampai minggu depannya lagi juga tidak apa-apa. Waduh, saya langsung mikir cuti saya yang sudah banyak terbuang hikss.. Takut kehilangan momen dan mesti ninggalin Tara kerja. FYI, saya ambil cuti sejak kehamilan 37 weeks. Agak sedikit salah perhitungan T_T, karena sempat mikir takut lahir di 38 weeks. Dan saya sudah sangat bosan mendengar pertanyaan, "Uda lahiran belum? Lama amat sih..." hiksssss
Akhirnya saya dikasih obat pelunak rahim, biar bayi-nya cepat keluar. Be…